Ahmad Dahlan sampai Soe Hok Gie
Diposting oleh Unknown , Jumat, 10 Februari 2012 14.55
Revolusionis kata yang menurut saya pantas tersemat pada kedua tokoh diatas. Memang keduanya memiliki latar belakang berbeda bahkan hidup di jaman yang berbeda dalam keyakinan keduanya berbeda, kyai dan atheis. Tak apa karena ini bukan soal agama lebih pada keteladanan dari seorang tokoh. Indonesia selalu mempunyai tokoh-tokoh hebat.
![]() |
| Gie |
Soe Hok Gie, adalah seorang mahasiswa UI dengan keberaniannya mengkritik pemerintah. Pergerakannya dan pemikirannya diabadikan dalam buku catatan seorang demonstran (1963), Zaman Peralihan (1995), Di Bawah Lentera Merah (1999) dan Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan (Bentang, 1997). Pemikiran dan suaranya di kala itu diyakini pemantik jatuhnya rezim Soekarno dan orang pertama yang berani mengkitik rezim orde baru. Gie meninggal di usia sangat muda 26 dengan kedudukan teakhir sebagai Dosen Universitas Satya Wacana. Seorang revolusionis yang idealis tak pernah takut merubah selama itu benar. Di akhir hayatnya ia pun tidur lelap di lembah paranggo.Seperti kata di buku hariannya:
“Seorang filsuf Yunani pernah menulis… nasib terbaik adalah tidak
dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial
adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda".
Seorang revolusionis sejati selalu punya visi seperti yang terjadi bahkan kini di tengah tembok-tebok kampus yang megah pesan untuk mahasiswa kini:
"Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika sekiranya ia mengambil
keputusan yang mempunyai arti politis, walau bagaimana kecilnya, selalu
didasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa. Mereka yang berani
menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. Dan
tidak menerapkan kebenaran atas dasar agama, ormas, atau golongan
apapun"
Benar pergerakan pemuda tentu mahasiswa harus terus berlangsung semoga selalu ada semangat yang sama dalam setiap pergerakan yaitu Kebenaran bukan Pembenaran atas nama golongan, kelompok dan ormas tertentu. Sebuah kemunduran kala mahasiswa terlibat politit k praktis, jelas itu adalah pembenaran. Tinggal menunggu waktu sampai mereka menjadi politikus busuk yang lupa pada rakyat.
![]() |
| Kyai Ahmad Dahlan |
Kemudian Ahmad Dahlan, hidup di zaman kolonial beliau berada di kalangan religius kraton Yogyakarta. Tepatnya di Kauman, sebagai anak seorang kyai beliau tentu mengenal betul tentang Agama islam. Saat menginjak usia 15 tahun beliau naik haji sekaligus menuntut ilmu selama 5 tahun. Maka dalam pembelajaran selama itu beliau di Mekah banyak pemikiran-pemikiran ulama disana yang dipelajari. Setelah lima tahun akhirnya beliau pulang ke tanah jawa.
Maka beliau tak pernah segan untuk membenarkan beberapa kesalahan umat pada saat itu. Mulai arah kiblat yang kurang tepat karena seharusnya diarahkan 23 derajat hingga budaya kejawen yang masih ada saat itu. Namun semua dilakukan dengan baik tanpa konfrontasi beliau juga berkeyakinan bahwa beragama adalah proses.
Selain kyai, Ahmad Dahlan adalah pembelajar handal beliau belajar tentang mengajar di sekolah Priyayi Osvia di Magelang dan belajar organisasi melalui Budi Utomo. Meskipun juga menjadi anggota Jam'iyatul Khair dan Syarikat Islam. Mengajarkan kita bagaimana belajar melalui mengajar, bagaimana belajar dari pengalaman. Melalui pengalaman tersebut beliau mendirikan organisasi Muhammadiyah. Sebuah organisasi yang ditujukan untuk kepentingan Sosial jelas bukan organisasi politik.
Cita-cita luhur beliau melebur dalam Muhammadiyah yang kita saksikan hingga saat ini. Menjadi besar mendidik bangsa dalam bidang pendidikan.
Dari Gie dan Ahmad Dahlan, sebenarnya kita belajar ada semangat yang sama diantara keduanya yaitu menegakan kebenaran, kemudian terpatri dalam keteguhan idealisme maka dengan keduanya perubahan itu menjadi ada. Semangat yang semoga selalu dilanjutkan para pemuda Indonesia dimanapun.

