Belajar dari Bapak Bangsa, Gus Dur!
Diposting oleh Unknown , Senin, 07 November 2011 23.13
Indonesia sebagai negara yang mayoritas Muslim, hingga kini dari berbagai aspek belum menunjukan ke-indahan islam itu sendiri. Mulai korupsi yang masih menjadi primadona, kemudian isu terorisme dan moralitas bangsa yang semakin merosot. Sejatinya sebagai seorang muslim kita memiliki akhlaq dan kejernihan berpikir dan bertindak. Terutama dalam hubungan dengan agama lain dimana saling menghormati harus diutamakan utamanya kalo kita hidup di Indoneia yang ber-Bhineka Tunggal ika. Kita mencoba mengambil pelajaran dan hikmah dari seorang bapak bangsa, yang pemikirannya terkadang jauh di depan pemikiran orang biasa. Bahkan terkadang tidak masuk akal, tapi setelah ditelaah lebih jauh kita akan sadar bagaimana kita seharusnya bersikap.
| Sang Bapak Bangsa KH. Abdul Rahman Wahid |
Gus Dur selama hayatnya selalu memperjuangkan kebenaran
sejati dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ini ditujukan agar
kehidupan rakyat menjadi sejahtera, Kebenaran sejati beliau ini dibangun berlandaskan
pengetahuan yang mendalam tentang hakekat manusia, harkat kebangsaan,
kesadaran akan pluralitas, dan apresiasi kreatif terhadap kebudayaan.
Pemikiran Gus Dur mengenai tingkatan menuju Tuhan, lebih
mendahulukan perjuangan sosio kultural untuk membangun sistem
penyejahteraan rakyat (hablun min an-naas). Ini merupakan tarekat
tertinggi dan lebih cepat sampai kepada Tuhan ,dari pada harus melewati
jalan ritual-individualistik (hablun min Allah). Oleh sebab itu, gagasan
beliau menegaskan bahwa umat islam perlu menyempurnakan Rukun Iman,
Rukun Islam yang telah mapan itu dan kemudian merumuskan serta
mengajarkan Rukun Sosial yang masih rapuh dikalangan umat.
Konsep
Rahmatan lil ‘alamiin, bagi beliau dimaknai sebagai rekonstruksi sistem
sosial islam yang sejajar dengan Rukun Iman dan Islam. Ini dimaksudkan
agar keberadaan umat islam benar-benar menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Utamanya menjadi rahmat bagi seluruh rakyat dalam kehidupan berbangsa
dan bernegara.
Bagaimana islam mampu membawa rahmat bagi seluruh
alam, kalau di negaranya bertindak anarkisme dan permusuhan yang
mengatasnamakan agama. Bagaimanapun juga, di era reformasi
ini kita hendaknya menjunjung tinggi dan menghargai kebebasan
berpendapat. Gagasan inilah yang difatwakan Gus Dur ketika beliau
menjabat sebagai presiden. Kebijakasanaannya selalu mengangkat derajat
orang-orang kecil teraniaya. Rukun Sosial inilah yang belum kebanyakan
orang ketahui.
Beberapa keputusan Gus Dur selama masa pemerintahannya adalah sebagai berikut, Kembali lagi tidak ada manusia yang sempurna, karena kesempurnaan itu milik Alloh Ta'alla...
- Semasa pemerintahannya, Gus Dur membubarkan Departemen Penerangan dan Departemen Sosial serta menjadi pemimpin pertama yang memberikan Aceh referendum untuk menentukan otonomi dan bukan kemerdekaan seperti di Timor Timur. Pada 30 Desember 1999, Gus Dur mengunjungi Jayapura dan berhasil meyakinkan pemimpin-pemimpin Papua bahwa ia mendorong penggunaan nama Papua.
- Pada Maret 2000, pemerintahan Gus Dur mulai bernegosiasi dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Dua bulan kemudian, pemerintah menandatangani nota kesepahaman dengan GAM. Gus Dur juga mengusulkan agar TAP MPRS No. XXIX/MPR/1966 yang melarang Marxisme-Leninisme dicabut.
- Ia juga berusaha membuka hubungan diplomatik dengan Israel, sementara dia juga menjadi tokoh pertama yang mereformasi militer dan mengeluarkan militer dari ruang sosial-politik. Muncul dua skandal pada tahun 2000, yaitu skandal Buloggate dan Bruneigate, yang kemudian menjatuhkannya.
- Pada Januari 2001, Gus Dur mengumumkan bahwa Tahun Baru Cina (Imlek) menjadi hari libur opsional. Tindakan ini diikuti dengan pencabutan larangan penggunaan huruf Tionghoa.
Sebagian dari kita mungkin menilai ada beberapa keputusan beliau kurang tepat namun dibalik itu semua. Bayangkan bagaimana kalo departemen penerangan dan departemen sosial masih eksis hingga kini, tentu kita akan di jejali informasi yang didominasi pemerintah yang berkuasa. Bayangkan apabila hingga kini militer masih berada di ruang sosial-publik tentu masa orde baru akan terulang. Yang paling penting langkah Gus Dur mengakui keberadaan kaum Tionghoa adalah wujud nyata seorang Pemimpin yang peduli terhadap kaum minoritas.
Sebuah pelajaran dari sang bapak bangsa siapapun kita saat kita menjadi pemimpin ataupun kita menerima amanah terkecil sekalipun, ingatlah jika anda seorang muslim, sematkan dalam hati Islam harus menjadi Rahmatan lil alamin, ingat bukan sekuat apa kita menjadi ekslusif, tapi sebaik apa kita mau menerima perbedaan dan menampilkan kebenaran Islam.