Sinta Ridwan Kartini masa kini, Senyum,Lupus dan Naskah Kuno!!

Diposting oleh Unknown , Kamis, 27 Oktober 2011 22.22

Pertama kali tau info ini dari Met*o tv, satu figur anak bangsa yang menurut saya sangat "Usefull":, meminjam istilah ini dari seorang sahabat. Berlatar belakang pendidikan Filiologi yang berhasil diraih sampai jenjang S-2 Unpad mendorong gadis satu ini untuk bergelut dengan sejarah. "Tak ada masa lalu, tak ada masa kini" begitu katanya.


 "Tak ada masa lalu, tak ada masa depan"
"Tan Hana Muni Tan Hana Nangke"

Filologi mempelajari naskah-naskah manuskrip, biasanya dari zaman kuno. Sebuah teks yang termuat dalam sebuah naskah manuskrip, terutama yang berasal dari masa lampau, seringkali sulit untuk dipahami, tidak karena bahasanya yang sulit, tetapi karena naskah manuskrip disalin berulang-ulang kali. Dengan begini, naskah-naskah banyak yang memuat kesalahan-kesalahan. Nah, Tugas seorang filolog, ialah meneliti naskah-naskah ini, membuat laporan tentang keadaan naskah-naskah ini, dan menyunting teks yang ada di dalamnya.

Bayangkan sebagai negara kepulauan dengan beragam budaya berapa banyak peninggalan masa lalu    berupa naskah kuno yang tersebar di seluruh Nusantara? Siapa yang peduli? Siapa yang menjaga? Pemerintah kah? Sangat Retoris semua sudah tahu endingnya...

Harapan itu ada, dari seorang gadis yang berjuang demi dirinya sendiri melawan Lupus, tapi tetap tegar untuk bisa memberi dan memberi kepada orang lain. Ditengah rasa sakitnya tetap tegar dan tersenyum, mengajar Aksakun. Kelas bahasa kuno yang diikuti berbagai kalangan mulai musisi musik cadas hingga pelajar, Wow... Sebuah semangat, MEMBERI DAN MEMBERI yang patut diteladani.

Apa motivasi sinta? Digitalisasi naskah kuno seantero indonesia!  gagasan ini sangat penting demi kelestarian budaya indonesia, kenapa? karena Naskah-naskah itu seperti diburu waktu menuju kehancuran, ya.. sebagian besar ditulis pada kertas yang lama2 juga bisa kemakan rayap..

Cita-cita Sinta ridwan ini kini sedikit mendapatkan titik terang setelah dalam acara HOPE nya metro-tv mendapat bantuan dari sebuah perusahaan swasta berupa laptop dan uang operasional, belum cukup memang tapi bisa menjadi pembangkit semangat..
Terus berjuang Sinta Ridwa, Langkah Kecilmu.. yang ditunggu Ibu Pertiwi...
Keep Smiling and Fighting!!!


Source:
http://indonesiaproud.wordpress.com/page/2/
http://www.kickandy.com/hope/hope/sinopsis/profilenarsum/read/1867/Sinta-Ridwan.html




Idealisme Bedroom singer!

Diposting oleh Unknown , Rabu, 19 Oktober 2011 01.14



Adhitya Sofyan, pertama kali denger lagunya "Adelaide Sky" di film Kambing Jantan Raditya Dika. Hmm.. ini salah satu part-nya.

ini dia... ^^d

Sebagai bed room singer dia punya strategi unik dalam mempublikasikan karya-karyanya yaitu membagikan secara gratis, ada beberapa alasan yaitu:

1. Tidak ada kepentingan penuh untuk hidup dari musik
2. Mempercepat brand building, mempermudah lagunya menyebar dan dibicarakan di internet.
3. Kesadaran bahwa file sharing/music download adalah behavior baru penikmat musik yang
tidak mungkin dihindari karena perkembangan internet.
4. Adhit tidak sendirian dalam membagi-bagikan musik gratis, banyak musisi di seluruh dunia melakukan hal sama,
5. Sharing is fun, mudah dan InsyaAllah berpahala.

Yang luar biasa semua proses rekaman dilakukan sendiri dengan alat2 di bawah ini, ni..... Untuk keperluan strings, piano, drum sounds, dipakailah keyboard controller Behringer UMX49 ini, langsung disambung ke usb port di Macbook (semua suara strings, piano dsb sudah tersedia di GarageBand. Jadilah musik2 brillian Adhitya Sofyan.


Bagaimana ide itu muncul? ini pengakuan si empunya lagu, mari kita simak ^^d
Music garage-nya bang A. Sofyan

Suatu hari saya berjalan di luar kantor, langit tiba-tiba mendadak gelap. Rintik air hujan pun mulai jatuh ke tanah. Tidak lama kemudian saya mencium harum khas tanah basah terkena air. Harum-nya khas sekali. Ya, saya selalu suka baunya.
Sesampainya di meja kerja, saya langsung nge-tweet,


“If I could bottled the smell of the wet land after the rain, I would make it a perfume”

*Sent*

Lalu saya tweet lagi, “I would name the perfume ‘After the Rain”.

*Sent*

Awalnya saya hanya berfikir tentang sebuah parfum yang bau-nya terinspirasi dari bau air hujan yang jatuh ke tanah. Sama sekali tidak ada maksud ingin menulis lagu. Apalagi saat itu saya tidak sedang pegang gitar.Namun beberapa saat saya mulai menyukai kalimat yang saya tweet tadi. Saya pikir menarik kalo kalimat tadi bisa dijadikan lagu.Tapi saya sebelumnya tidak pernah menulis lagu tanpa bentuk chord yang jelas. Apalagi saya hanya punya sebuah kalimat.Well, nothing to loose! Jadi dicoba saja.
Saya lalu mencari gitar kantor, dan mulai mencari-cari chord dari kalimat,
“If I could bottled the smell of the wet land after the rain, I would make it a perfume…”.
Setelah dicoba, bentuk lagu pun mulai terlihat. Dalam dua hari, lagu ini pun selesai. Saya beri judul After the Rain. prok..prok..prok... gud music gan....

Pencapaian musisi satu ini tak main-main seperti tampil dalam Esplanade Singapore and won 2 awards from ICEMA, the 1st Indonesian Cutting Edge Music Award as Favorite Singer-Songwriter and Favorite Solo Artist, and performing at Harmoni SCTV, a prestigious music concert held once a month with composer Andi Rianto dan Saravah Music lounge (di bawah ada ling You Tube nya loh.. :).


 His show in saravah music lounge Shibuya, Tokyo, Japan

Sebuah idealisme dapat menembus batas ekspektasi publik pada kemapanan yang bisa diraih dengan banyak jalan. Satu poin penting dari langkah A. Sofyan, Be the First, Be the Best and Be the Different. Kekuatan utama musisi ini adalah Sharing Spirit  atau semangat berbagi, dengan prinsip memberi dan memberi, kita takkan pernah merasa kehilangan, kualitas terus menaik dan berkarya tanpa beban. Terus berkarya dan buat lagu2 berkualitas bang!

Satu langkah anak bangsa, idealisme itu menjadikan kita beda, beda menjadikan kita istimewa.. ^^d

wanna know more just go to adhitya sofyan blog: http://adhitiasofyan.wordpress.com/






From Ngayogyakarto to New York

Diposting oleh Unknown , 00.09

 “Kita tidak pernah punya tendensi kontemporer, Java Hip Hop adalah kejujuran, selamanya akan seperti itu. Tapi jika apa yang kita kerjakan dianggap seni, itu hak mereka”, demikian Marzuki Mohammad a.k.a Kill the DJ, founder dan produser JHF"

Pas surfing eh, nemu video JHF di you tube. Video klipnya mengusung bahasa jawa, dan yang luar biasa pembuatan video klipnya di New York yang nota bene-nya kiblat bagi musik hip-hop. inovasi dan idealisme JHF dalam bermusik memunculkan  banyak support dari seluruh penjuru dunia, menurut mereka inovasi yang mereka buat adalah ekspresi cross culture yang brilian.

Usaha yang dilakukan JHF bukan seumur jagung, konsistensi dan usaha itu dimulai sudah 8 tahun. Kini usaha tersebut mulai membuahkan hasil, Pelajaran moral yang bisa kita petik adalah "Idealisme itu sama dengan cara biasa maupun cara oportunistik, hanya bedanya idealisme perlu waktu lebih panjang untuk berproses, dapat diterima dan menampakan hasil". Di tengah banyaknya lagu2 populer mereka mengangkat budaya jawa dan dikombinasikan secara apik dalam kemasan Hip-hop. Bangsa Indonesia memang unik dan luar biasa.


 berikut kutipan pernyataan personil JHF: 
“Kaki kami masih berpijak pada bumi yang membesarkan kami, namun kepala bisa mengembara kemana pun kita mau. Semoga kami selalu dikaruniai rasa cinta dan kesederhanaan terhadap apa yang kami kerjakan”, Kill the DJ menegaskan bagaimana semuanya berjalan sangat natural"


About JHF

Videos for Asia Society

JHF Videoklip in New York

  Langkah kecil anak bangsa yang membanggakan, Berpijak pada budaya jawa dan berhasil mencapai punjak dunia..
Keep beat up your Hip-hop with Javanesse Wisdom, JHF!

wanna know more?visit: Hiphopdiningrat

Book Store Trip (1)

Diposting oleh Unknown , Sabtu, 08 Oktober 2011 10.51

Mengerjakan proposal ternyata lumayan membosankan, jadi sekalian searching2 eh nemu buku bagus.. "Hati Memilih", buku dari penerbit Bukune dengan pimpinan redaksi Raditya Dika "Memberikan alternatif buku nyeleneh untuk anak muda".  



 Seperti air mengalir, cinta pun mengalir menuju muaranya: keikhlasan.
Kita tak mampu memilih cinta mana yang hadir dalam cerita perjalanan kita. Kita yang Dia kirim, kita pun tak bisa memilah hanya cinta dan tawa—tanpa masa lalu, tanpa air mata, dan tanpa luka.
Katanya, cinta tidak pernah mengajarkan kita untuk menjadi lemah. Tak peduli siapa yang lebih mencintai, jika cinta itu mampu menguatkan dan mendorong kita untuk ikhlas menghadapi apa pun, itulah cinta yang harus kita pilih.
Namun, bagaimana jika memang lebih baik kau bersama orang yang mencintaimu ketimbang orang yang kau cintai? Bagaimana jika tetap berdiri di titik semula adalah hal terbaik untuk yang disebut hari depan?
Biarkanlah, biarkan hati yang memilih—hatimu, hatiku.

***
Ada banyak kejutan menanti di akhir kisah novel yang benar-benar mengalir ini. My fav
quote is "open your heart to unexpected love". So, just let this story flows into your soul.
Ifa Avianty, penulis novel Facebook on Love 1 & 2, Friendloveship, Long and Lasting Love

Sumber:
http: //bukune.com/kabar-bukune/ketika-hati-memilih-kejujuran

Cinta adalah keberanian atau pengorbanan

Diposting oleh Unknown , Senin, 03 Oktober 2011 19.42



Sungguh beruntung bila diantara kita ada yang bisa mengikuti jejak cinta dari seorang Ali bin Abi Thalib RA dan istrinya Fathimah Az-Zahra RA. Karena keduanya adalah sosok yang memiliki cinta sejati yang mumpuni. Saling mengisi dan percaya dalam mengarungi bahtera kehidupan. Saling menenguhkan keimanan masing-masing kepada Allah SWT. Dan untuk lebih jelasnya, mari kita ikuti kisah singkat tentang cinta sejati mereka:
Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah, karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya. Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali.
Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakar Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.
”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali. Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakar. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakar lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan Rasul-Nya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakar menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.
Lihatlah juga bagaimana Abu Bakar berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakar; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.
Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakar; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakar sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah.
Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. ”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali. ”Aku mengutamakan Abu Bakar atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku” Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilahkan. Ia adalah keberanian atau pengorbanan.
Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu. Lamaran Abu Bakar ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Namun, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakar mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut.
Umar ibn Al-Khaththab. Ya, Al-Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakar. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakar dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakar dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakar dan ’Umar.”
Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi. ’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al-Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!” ’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulullah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali pun ridha.
Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau mempersilakan. Yang ini pengorbanan.Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak.
Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarderkah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulullah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri. Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adzkah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?
”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.. ” ”Aku?”, tanyanya tak yakin.”Ya. Engkau wahai saudaraku!” ”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?” ”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”
’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi disana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang. ”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.
Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi. Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak, itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan. ”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu? ”Entahlah…” “Apa maksudmu?” “Menurut kalian apakah ’”Ahlan wa Sahlan” berarti sebuah jawaban!” ”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka, ”Eh, maaf kawan. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya !” Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang. Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakar, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang, bukan janji-janji dan nanti-nanti.
Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.
Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu, aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda ” ‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau menikah denganku? dan siapakah pemuda itu?” Sambil tersenyum Fathimah pun berkata; “Ya, karena pemuda itu adalah dirimu”
Kemudian Nabi SAW bersabda: “ Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fathimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut”
Kemudian Rasulullah SAW. mendoakan keduanya: “Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak”

Yogyakarta, 28 April 2011
Mashudi Antoro (Oedi`)


SUMBER:
http://oediku.wordpress.com/2011/04/28/kisah-cinta-sejati-ali-bin-abi-thalib-ra-dan-fatimah-az-zahra-ra/
Gambar:http://rohisalkautsar.files.wordpress.com/2011/06/al-quran.jpg?w=497&h=376